UMBI GADUNG
Semak, menjalar, permukaan batang halus, berduri, warna hijau keputihan. Daun tunggal, lonjong, berseling, ujung lancip, pangkal tumpul, warna hijau. Perbungaan bentuk tandan, di ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota hijau kemerahan. Buah bulat setelah tua biru kehitaman. Biji bentuk ginjal. Bagian yang Digunakan Rimpang. 
Jenis ini di Indonesia dikenal dengan beberapa nama daerah yaitu gadung, sekapa, bitule, bati, kasimun dan lain-lainnya. Dalam bahasa latinnya gadung disebut Dioscorea hispida Denust, family Dioscoreaseae. Gadung merupakan perdu memanjat yang tingginya dapat mencapai 5-10 m. Batangnya bulat, berbulu dan berduri yang tersebar sepanjang batang dan tangkai daun. Umbinya bulat diliputi rambut akar yang besar dan kaku. Kulit umbi berwarna gading atau coklat muda, daging umbinya berwarna putih gading atau kuning. Umbinya muncul dekat permukaan tanah. Dapat dibedakan dari jenis-jenis dioscorea lainnya karena daunnya merupakan daun majemuk terdiri dari 3 helai daun. Bunga tersusun dalam ketiak daun, berbulit, berbulu dan jarang sekali dijumpai. 
Gadung ini berasal dari India bagian Barat kemudian menyebar luas sampai ke Asia Tenggara. Tumbuh pada tanah datar hingga ketinggian 850 m dpl, tetapi dapat juga diketemukan pada ketinggian 1.200 m dpl. Di Himalaya Dioscorea hispida di budidayakan di pekarangan rumah atau tegalan, sering pula dijumpai di hutan-hutan tanah kering.
Umbinya sangat beracun karena mengandung alkohol yang menimbulkan rasa pusing-pusing. Dengan cara pengolahan khusus akhirnya dapat dimakan. Di Nusa Tenggara dan Maluku umbinya dimakan sebagai pengganti sagu dan jagung pada saat-saat paceklik, terutama di daerah-daerah kering. Umbi mentahnya karena mengandung alkaloid dapat digunakan sebagai bahan untuk racun binatang dan juga dapat digunakan sebagai obat luka di Asia. Bahan sisa pengolahan tepungnya dapat digunakan sebagai insektisida. Bunga tanaman ini yang berwarna kuning sangat harum digunakan untuk mewangikan pakaian dan dapat pula dipakai sebagai hiasan rambut. Umbi yang telah bertunas dipergunakan sebagai bibit. Penanaman biasanya dilakukan menjelang musim hujan. Setelah berumur satu tahun dapat dipanen. Bila umbinya dibiarkan tua warnanya akan berubah menjadi hijau dan kadar racunnya akan makin pekat. Umbi dipanen dengan tanjau atau garpu tanah. 
Dalam peranannya mengobati penyakit para pakar berpendapat bahwa umbi gadung dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Darah akan turun setelah pemberian infuse lantaran umbi gadung menghambat kerusakan sel-sel beta pancreas. Dampak penghambatan itu adalah produksi insulin dalam tubuh kembali kembali stabil. Aloksan memicu kerusakan pancreas, dan infuse umbi gadung mampu menghambat kerusakan itu. 
Selain umbi gadung yang dipakai sebagai bahan baku pada nugget kelinci ini, daging yang terkandung dalam nugget ini rendah akan kolestrol dan natrium, sehingga membuat daging kelinci sangat dianjurkan sebagai makanan untuk pasien penyakit jantung, usia lanjut, dan mereka yang bermasalah dengan kelebihan berat badan. Keuntungan lainnya, tulang pada kelinci lebih tipis, dagingnya halus, dan seratnya pendek sehingga mudah dikunyah.
Menurut riset yang dilakukan oleh Endang Sri Sunarti Apt MSi, peneliti di Fakultas kedokteran Universitas Diponegero Semarang. Ia menguji khasiat gadung terhadap 20 tikus putih jantan wistar, dibuat diabetes dengan diinduksi aloksan 150 mg/kg BB secara intra peritoneal, kemudian dikelompokan secara acak menjadi 4 kelompok, masing-masing 5 ekor. Kelompok 1, sebagao control positif diberi insulin 12,6, subcutan; kelompok II : sebagai control negative diberi aquadest 5 Ml / kg BB per oral; kelompok III: diberi infusa umbi dosis 630 mg / kg BB peroral; kelompok IV : diberi infusa umbi gadung dengan dosis 1260 mg / kg BB peroral. Masing-masing kelompok diberi perlakuan ssehari selama 14 hari; selanjutnya penetapan kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke : 4, 7, 10, 14 menggunakan metode o-toluidin pada λ 634 nm (Soewoto 2001). Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada saat tikus sebelum diinduksi ( hari ke 0) dan sesudah diinduksi aloksan dan menjadi diabetes ( hari ke 4, 7, 10, dan 14). Sebelum diambil darahnya tikus dipuasakan 16-18 jam. Hasil pengukuran kadar glukosa darah pada Tabel I.
Kadar glukosa darah yang diperoleh dari masing-masing kelompok apabila dihitung dalam persen (%) terhadap kadar glukosa darah hari ke-0 dapat dilihat pada table 2. Hal ini memperjelas bberapa % infusa umbi gadung yang diberikan akan menurunkan kadar gllukosa darah dengan bertambahnya waktu pemberian infusa.
Dari table 22, dibuat grafik persen (%) perubahan kadar glukosa darah dibanding hari ke-0 masing-masing kelompok perlakuan dapat dilihat pada Gambar 1.
 
 
 
 
Dari gambar 1 dapat dilihat, bahwa pada kadar glukosa darah normal (awal) memenuhi rentang kadar glukosa darah tikus yaitu 50 – 135 mg / Dl ( Kusumawati, 2004), Sedang tikus diabetes ditandai dengan menigkatnya kadar glukosa darah yang melebihi normal ( kadar glukosa normal > 200 mg / Dl).
Pada tikus kelompok I, sebagai control positif, diberi insulin 12,6 IU/kg BB, menunjukan penurunan persen perubahan kadar glukosa darah dibandingkan dengan hari ke-0. Penurunan ini stabil dan nyata seiring dengan bertambahnya hari perlakuan, dan hari ke-4 sampai hari ke-14. Hal ini didukung dengan data statistic (p< 0,05).
Pada kelompok II, sebagai control negative, yang diberi quadest lewat sonde 5 Ml/kg BB; menunjukan bahwa pada hari ke-0 dibuat diabetes kadar glukosa darah dapat melebihi normal, kadar glukosa ini menurun sampai hari ke-7, yang seharusnya stabil, namun ternyata kondisi stress dari lingkungan, akan mengakibatkan gerak menjadi aktif pada saat pengambilan darah, sehingga penggunaan glukosa jaringan meningkat, kondisi ini yang membuat kadar glukosa dalam tubuh menurun. Tetapi penurunan kadar glukosa darah ini masih dalam keadaan diabetes, karena aloksan menyebabkan pengaruh diabetogenik secara mendadak dan selektif merusak sel β pancreas sehingga mencegah atau mengurangi produksi insulin, dan pada hari ke 10 dan 14 terjadi kenaikan glukosa darah kembali; kemungkinan tikus telah beradaptasi.
Pada kelompok 111 dan IV, terjadi penurunan persen perubahan kadar glukosa darah pada hari ke-4 dan hari ke-7, tetapi pada kedua kelompol pada hari ke-10 mengalami peningkatan persen perubahan dibandingkan pada hari ke-0. Peningkatan ini disebabkan karena tikus mengalami sters pada saat pengmbilan darah, akibatnya terjadi peningkatan kadar glukosa darah.
Tetapi pada hari ke-14 kedua kelompok mengalami penurunan kembali dibandingkan hari ke-0 mauun ke-10. Pada gambar 1, terlihat pada kelompok IV penurunannya lebih tajam dibandingkan kelompok III, penurunan sebanding dengan pemberian insulin(p>0,05). Namun dengan karbohidrat pada umbi gadung yang cukup tinggi yaitu 23,2 gramm/100 gram bahan (Kusyati,2003), penurunan kadar glukosa darah diharapkan tidak akan menimbulkan Hipoglikemi mendadak, hal ini merupakan salah satu keuntungan penggunaan gadung sebagai obat anti diabet alternative.
Dari grafik pada gambar 1, pada kelompok III, pada kelompok III dan IV terlihat pemberian infusa umbi gadung sebagai obat alternative sebaiknya diberikan cukup 7 hari, dengan dosis yang disesuaikan. Pada pemberian lebih dari 7 hari akan terjadi fluktasi peningkatan kadar glukosa darah yang tak diinginkan, walaupun pada hari ke- 10 dan 14 akan terjadi penurunan kembali.

1 komentar:

Mukti Tri Yulianto mengatakan...

Maaf, saya Mukti, dari UII.salam kenal... klo boleh bisa dilihatkan refrensinya ?? saya tertarik dengan referensi kadar glukosa darah normal tikus dari (Kusumawati,2004) terimaasih. ini email saya mukti.farm@gmail.com

Poskan Komentar